Mimpi Buruk di Bandara Chicago, USA

Sekitar tiga minggu lalu, tepatnya 2 September 2016, saya mendarat di bandara Chicago O’Hare International Airport, USA. Kali ini saya masuk ke USA dengan menggunakan Fiance Visa yang sudah saya urus sejak empat bulan sebelum kedatangan. Saat antri di imigrasi pun, saya merasa lebih tenang dan santai. Tidak ada perasaan khawatir akan mendapat pertanyaan panjang lebar dan aneh-aneh dari petugas imigrasi seperti saat datang menggunakan visa turis.

Hasilnya, seorang petugas pria dengan rambutnya hampir putih semua itu memberi kode dengan tangannya untuk saya maju menghadap ke mejanya. Saya berikan amplop dari kedutaan USA di Indonesia kepadanya sembari memberi ucapan selamat pagi yang tidak dijawab. Sambil membuka dan mengecek dokumen di dalam amplop, si petugas yang mukanya jutek itu walaupun sudah saya beri senyum hanya menyuruh saya untuk scan jari dan retina mata. Kemudian memberi cap pada passport saya dan mempersilakan saya pergi. Sudah hanya begitu saja.

Padahal di bandara yang sama, sekitar sembilan bulan lalu, tepatnya pada Desember 2015, saya sempat tertahan di imigrasi dan digiring masuk ke ruangan imigrasi. Ok, ceritanya, saat itu saya baru selesai ikut program working and holiday di Australia. Sehari mendarat di Jakarta, saya langsung cabut ke USA buat ketemu di pacar yang sudah 10 bulan tak jumpa. Balik ke soal imigrasi, sebenarnya kunjungan kali itu merupakan kunjungan ketiga saya ke USA tapi merupakan kunjungan pertama saya ke USA tanpa memiliki pekerjaan tetap dan berniat stay lama sekitar tiga bulan. Saya pikir mumpung lagi tidak ada kerja jadi punya banyak waktu dan tidak terkekang oleh jatah cuti yang cuma seiprit.

Kunjungan pertama pada Oktober 2014, saya masih bekerja sebagai wartawan dan saya hanya berkunjung dua minggu. Sebenarnya saya cuma dapat cuti seminggu, seminggunya lagi saya dapat dengan iming-iming saya membuat tulisan dari hasil jalan-jalan ke USA untuk koran di mana saya bekerja. Kemudian kunjungan berikutnya pada Februari 2015 selama tiga minggu saat saya tengah mengikuti program working and holiday dan cuti dari pekerjaan saya sejenak di Sydney. Nah, pas kedatangan ketiga pada Desember 2015, bikin saya sempat grogi dari awal karena pertama saya berencana berkunjung selama tiga bulan dan saat itu saya memang sedang jobless (makanya saya bisa berkunjung sampai tiga bulan).

Bagi yang belum tahu, saya mendapatkan visa USA dengan masa expired lima tahun, jadi dalam waktu lima taun dari 2014 hingga 2019 saya bisa bolak-balik ke USA tanpa perlu apply visa turis lagi. Namun, akhir Agustus lalu, sejak Fiance Visa saya diterima, kedutaan USA di Jakarta, mencabut visa turis saya. Logikanya datang ke USA dengan Fiance Visa, kemudian saya menikah maka saya sudah tidak butuh visa turis lagi. Status saya akan berubah menjadi istri dari warga negara USA, untuk itu saya harus mendaftar green card atau semacam KTP-nya USA. Saya akan tulis di post lainnya untuk hal ini.

upload-15536-standard-818x667

Kembali ke cerita awal, entah karena lagi sial atau karena unsur dari petugas imigrasi atau memang perpaduan keduanya. Jadi pada kunjungan pertama dan kedua, saya mendapat petugas imigrasi seorang pria dan keduanya tidak rese dan ribet. Sebenarnya saya sudah memilih berdiri di antrain petugas imigrasi pria yang mukanya keliahatan baik dan tidak rese. Namun, satu keluarga Yahudi yang berjumlah lima orang di depan saya, cukup lama prosesnya. Tiba-tiba saya, petugas wanita di meja sebelah kosong maka petugas wanita muda berambut pirang melambaikan tangannya ke arah saya untuk meminta saya maju ke depan mejanya.

Ah, tetiba perasaan menjadi tidak enak. Apalagi saat saya melempar senyum manis sambil mengucap, “Good Morning,”. Si mbak pirang datar aja mukanya, malah kelihatan masem. Saya kasih passport saya dan doi langsung melancarakan sejumlah pertanyaan.

Pirang (P) : How many times you’ve been here?

Saya   (S)  : Three times now. First time was in October 2014 and then the second time was in February 2015

P: Where will you stay?

S: In my friend place in Ohio. (Entah saking grogi saya pengen nyebut boyfriend tapi malah jadi friend  dan mau ralat dah keburu tanggung)

P :So, tell me what did you do last February in USA?

S: I had winter holiday

P: For how long?

S: Three weeks.

P: Do you have return ticket?

S: Yes, I have. (Saya menyerahkan print ticket pesawat saya)

P: Sambil mengeryitkan kening dia bilang. Your return ticket said you will stay for three months. Why do you say you stay for three weeks. Do you lie to me?

S: Saya sempat bingung dengan pernyataan si pirang. “No, Miss. I said I was stayed three weeks last February  because you asked me what I did last February in USA and for how long. This time I will stay three months. Why should I lie, I have my return ticket.

Muka si petugas langsung berubah super jutek. Mungkin karena saya ngeyel atau emang doi aja yang sejak awal dah sensi kali sama saya.

P: No, I asked how long you will stay and you said 3 weeks and now your return ticker is for 3 months. How much money you bring?”

S: xxxx USD.

P: Credit card? Atm?

S: No. I dont have credit card and I have some money on my atm.

P: Hmmm. (Dia kemudian mengutak-atik komputernya). Stay behind that line. My friend will come to get you.

Saya bingung, tiba-tiba badan jadi gemetaran. Maksudnya apaan suruh berdiri di sana terus nanti dijemput temannya. Aduh mimpi buruk sekali ini. Si pirang tidak mengembalikan passport dan print-an tiket saya. Saya berdiri dengan muka cengo di tempat yang di suruh petugas, menduga-duga apa yang terjadi sedangkan beberapa orang yang berhasil melewati petugas imigrasi melewati saya dengan pandangan iba dan merekalangsung menuju ke pengambilan bagasi. Beberapa menit kemudian, petugas pria berbadan tinggi besar datang menghampiri si pirang. Dia memberikan passport saya kepada petugas pria. Kemudian si petugas pria berjalan menghampiri saya dan berkata, “Follow me,”

Saya sendiri tidak tahu mau di bawa kemana tapi yang pasti saya tahu saya dalam masalah. Tidak seperti yang sudah-sudah setelah cap passport oleh petugas imigrasi saya bisa melenggang mengambil bagasi saya untuk lanjut penerbangan domestik. Namun kali ini, saya justru digiring ke ruangan dengan tulisan “U.S. Customs and Border Protection”. Saya kemudian dipersilakan untuk duduk di ruang tunggu bersama dengan puluhan orang lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke ruangan tersebut.

Jujur saja, setelah lebih dari 20 jam perjalanan udara dengan badan yang pegal-pegal membuat otak saya tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Entahlah, apa saya yang salah mengerti pertanyaan dari petugas pirang atau dia yang juga yang salah mengerti jawaban saya. Sebelum pesawat landing, pertama kalinya saya sempat minum kopi hitam di pesawat dan sejak itu jantung saya seperti berdetak lebih cepat. Mungkin itu juga salah satunya membuat saya lebih cemas dari biasanya saat menghadapi petugas imigrasi sehingga tidak bisa benar-benar fokus dengan pertanyaan si petugas. Ah entahlah, mungkin saya juga salah mendengar pertanyaannya.

Saya berjalan melewati beberapa orang dan mencari kursi agak kosong di bagian belakang. Di sebelah seorang pria muda India bertubuh tinggi besar. Dari kursi tempat saya duduk, di bagian belakang saya memperhatikan orang-orang yang masuk ke ruangan ini sebagian besar berwajah latin Mexico, Asia seperti dari China, Korea, dan berwajah timur tengah. Terdapat pula beberapa wanita timur tengah menggunakan cadar dengan pria-prianya memiliki janggut lebar di wajahnya. Terdapat  dua orang kulit putih yang tampak resah celingak-celinguk, dari logat bahasa Inggrisnya seperti berasal dari Eropa. Salah satunya sempat berkali-kali bertanya kepada petugas kapan dia bisa keluar karena dia memiliki penerbangan selanjutnya.

Sambil memasang muka tegas, petugas cuma menjawab. “Dont worry about your flight. If you are done here, you can go,” ujar petugas membuat di pria berkulit putih itu kembali ke tempat duduk.

Saya sempat berpikir untuk mengirim pesan ke pacar saya tapi melihat ada tanda larangan penggunakan handphone, saya mengurungkan niat. Malah justru si pria kulit putih itu sibuk mencoba menghubungi temannya. Tentu saja dengan segera dia di datangi petugas dan diminta untuk mematikan handphonenya. Dia beralasan ingin menghubungi temannya di luar sana. “If you are be good. You can meet your friend soon. Now, switch off your phone,” kata petugas berambut putih dengan wajah tegas.

Tidak lama dari insiden handphone si pria kulit putih. Seorang pria China berumur sekitar 40 tahunan, justru dengan santainya menelpon menggunakan handphone sambil berbicara menggunakan bahasa China dengan orang di sebrang telpob. Petugas berambut putih yang tadi sempat menegur si pria kulit putih, dari jauh sudah meneriaki pria China itu untuk mematikan handphone. Hampir semua mata di ruangan itu mengarah kepada pria China itu.

Entah tidak mengerti bahasa Inggris atau karena emang dablek atau ngeyel, dia tetap asik mengobrol di telpon. Sampai di didatangi si petugas dan memintanya mematikan handphone, si pria China itu malah tetap ngobrol di telpon sambil bengong ngeliatin petugas. Saking tidak sabarnya si petugas, langsung mengambil telpon dari tangan si pria China kemudian berkata. “You can get this after you get your passport back,” ujarnya kemudian kembali ke ruangannya sambil membawa telpon hasil sitaan.

Si pria China cuma bisa bengong dan seolah tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Kemudian pria China yang berada tidak jauh darinya menjelaskan dalam bahasa China dan baru mengertilah apa yang terjadi. Meskipun tidak mengerti bahasa Inggris tapi dengan adanya simbol handphone dicoret garis merah kan sudah jelas artinya tidak boleh menggunakan handphone. Ada-ada saja orang-orang ini. Masuk ke dalam ruangan ini saja sudah suatu masalah ditambah lagi bertindak aneh-aneh yang mempersulit diri sendiri.

Suasana di ruangan cukup ramai dengan berdatangannya beberapa orang berwajah Arab dan sekeluarga China. Beberapa orang di panggil untuk masuk ke dalam ruangan lain yang lebih kecil. Saya tidak tahu sudah berapa lama saya berada di sana karena handphone dan jam saya masih menunjukkan zona waktu di Jepang, tempat transit sebelum mendarat di USA. Saya mulai resah karena nama saya belum juga dipanggil-panggil. Padahal pesawat menuju Cleveland akan berangkat pukul 17.30 dan saya tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Seingat saya, pesawat mendarat di Chicago sekitar pukul 15.30 yang artinya saya tidak punya banyak waktu untuk transit di Chicago.

Saya mencoba mengalihkan berbagai pikiran negatif yang muncul dengan membaca buku tapi tidak berhasil. Kepala saya diisi dengan berbagai pertanyaan. Apa sebenarnya alasan saya masuk ke ruangan ini? Aapa yang harus saya jelaskan nanti ke petugas imigrasi? Apa yang akan mereka lakukan dengan saya? Apa imigrasi menelpon pacar dan menanyakan status kami? Apa saya akan dideportasi? Arghh, pening kepala saya dengan berbagai pertanyaan.

Jika sampai kejadian saya dipulangkan ke Indonesia, lalu siapa yang akan membayar tiket pesawat? Perasaan khawatir saya justru tiba-tiba saja berubah menjadi kekesalan karena harus berakhir di ruangan ini. Dengan kesal saya sempat berkata pada diri saya sendiri, jika saya tidak bisa ke USA lagi karena saya di blacklist, biar saja nanti pacar yang suruh ke Indonesia. Ga lagi-lagi datang ke USA. Namun, amit-amit juga sih kalau sampai di deportasi. Rasanya berharap semua hanya mimpi buruk dan saya segera bangun dari tidur saat itu juga.

Lagi sibuk memikirkan pertanyaan apa yang nanti ditanyakan kepada saya. Tiba-tiba seorang ibu-ibu China dari kursi depan berjalan ke arah saya dan duduk di sebelah saya. Kemudian langsung nyerocos bahasa China kepada saya sambil menunjukkan selembar kertas kecil. Saya cuma senyum kecil smabil berkata. “Sorry, Im not Chinese,”. Dikira saya China kali ya dan akan dimintai tolong menerjemahkan dokumen bahasa Inggris ke bahasa China. Sebelumnya, saat berada dalam antrian imigrasi tadi, saya juga sempat dihampiri oleh ibu-ibu China yang minta dibantu mengisi kartu kedatangan. Untungnya ada wanita China lainnya yang bisa membantu. Setelah tahu saya bukan China, si ibu kembali ke tempat duduknya di bagian depan.

Setelah beberapa lama nama saya tidak dipanggil juga, saya sudah mulai bosan karena tidak ada kepastian dan tidak bisa ngapa-ngapain selain menyibukkan diri dengan membaca buku. Nmun, saya tidak bisa juga berkonsentrasi dengan kesibukan yang ada di ruangan ini. Perhatian saya justru selalu teralih ke orang-orang sekitar. Ruangan semakin ramai, dengan beberapa orang-orang baru berdatangan sedangkan beberapa orang yang sudah datang lebih dulu seperti saya, belum juga selesai diproses. Ditambah lagi beberapa anak-anak kecil berwajah latin dan China mulai tidak sabaran disuruh diam di dalam ruangan. Ada yang mulai guling-gulingan di lantai sambil teriak-teriak, ada yang mulai nangis-nangis. Para orangtua sibuk menenangkan anaknya.

Saya sendiri makin dibuat pusing ditambah lagi perut keroncongan. Sempat ngobrol dengan pria India yang duduk di sebelah saya, ternyata dia merupakan warga negara USA. Dia sendiri baru balik dari luar negeri dan tidak mengerti katanya ada masalah data di passportnya sehingga dia berakhir di ruangan ini. Tak lama di tengah obrolan, nama pria tersebut di panggil petugas. Si petugas memberikan passport kepadanya sehigga dia bisa keluar dari ruangan. Prosesnya cukup cepat juga, karena saya datang lebih dulu dari pria India itu tpi dia sudah selesai prosesnya sebelum saya dan beberapa orang lainnya yang sudah datang lebih dulu dari saya.

Setelah si India pergi, seorang pria latin bertubuh tegap dengan pakaian sporty duduk di depan saya seraya meletakan koper yang berukuran kecil. Saya melihat dia baru saya keluar dari ruangan kecil yang menjadi ruang intrograsi dan kembali duduk di ruang tunggu. Saya mencoba mengintip jam di pergelangan tangannya tapi tidak berhasil. Saya pun menyolek si pria tersebut seraya bertanya jam berapa sekarang. Dia memperlihatkan jam tangannya ke arah saya, memberitahu saya jam menunjukkan pukul 5 sore.

Saya pun semakin lemas, hampir 1,5 jam di ruangan ini nama saya pun tak kunjung dipanggil dan sebentar lagi pesawat saya menuju Cleveland akan lepas landas. Saya semakin pusing memikirkan, kalau saya akhirnya bisa keluar dari ruangan ini tanpa masalah tapi pesawat saya sudah berangkat, apa yang harus saya lakukan. Masa harus beli tiket pesawat lagi.

Tidak lama kemudian, pria latin yang duduk di depan saya di panggil kembali masuk ke ruangan sambil membawa koper. Seorang pria membawa kamera mengikuti si pria latin masuk ke dalam ruangan interograsi. Saya kemudian teringat acara tv  Australia, kalau tidak salah  judulnya Border Security: Australia’s Frontline, di mana isi acaranya soal orang-orang bermasalah yang masuk ruang interogasi di imigrasi. Mulai dari masalah dokumen hingga membawa barang-barang terlarang. Waduhh, semoga aja nanti saat saya masuk ruang interogasi tidak perlu ada kamera segala. Kan enggak lucu tiba-tiba muka saya muncul di tv Amerika atau di youtube, bisa menjatuhkan citra nih.

Saya pun kembali mati gaya menunggu nama saya yang tak kunjung di panggil sedangkan orang-orang mulai datang dan pergi. Di tengah menyibukkan diri, tenggelam membaca novel Tere Leye mengenai sebuah negeri di ujung tanduk, samar-samar saya mendengar nama saya dipanggil. Saya pun mendongakan kepala, melihat seorang petugas pria berdiri sambil memegang paspor saya. Saya pun langsung bangkit dari kursi dan berjalan menuju petugas pria tersebut. “Follow me,” ujarnya kemudian berjalan di depan saya dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan tersebut tidak seperti yang saya bayangkan, terdapat tiga meja dengan dua petugas pria lainnya yang tengah memeriksa dua orang berwajah latin. Saya pikir saya akan masuk ke dalam ruangan dan diintrograsi oleh beberapa petugas seorang diri.

Saya dipesilakan duduk di samping meja si petugas. Dia sempat mengetik sesutau di keybord komputernya. Saya yang duduk diagonal dengan layar komputer dapat melihat, pas foto dan data diri saya terpampang di layar komputer.

Petugas (P) : So, can you explain to me why you lie to my patner?”

Saya (S)      : I’m not lie (Saya spontan saja menjawab seperti itu karena memang saya tidak bohong).

P : Oh, come on. You said you will stay for 3 weeks but your return ticket is for 3 months.

S: Im not lie. There was miscommunication. I said I was stay for 3 weeks last February because she asked me how long I stayed when I came to USA last February. I have my return ticket too, why I should lie?

P : So, how long you will stay this time?

S : Three months.

P : What will you do for 3 months?

S: I will have winter holiday. I want see Chistmas in USA. I want celebrate new year in New York and I want celebrate my birthday on February in USA too.

Si petugas kemudian sibuk bolak-balik print tiket pesawat saya sambil mengecek sesutu di komputernya. Kemudian tiba-tiba saja melempar pertanyaan yang membuat saya harus menceritakan perjalanan hubungan saya dengan si pacar, Who is Scott? Your boyfriend? How do you know him? How long you been in relationship with him? Do you have plan to marry ?

Banyak ya pertanyaan kepo dari petugas, saya pun jawab semuanya kekepoan si petugas dengan memaparkan panjang lebar mengenai hubungan saya dengan si pacar. Menjawab pertanyaan terakhir membuat saya  jadi semacam curhat sama petugas. Saya bilang aja kalau kita belum mikir soal nikah dan sampai saat ini pacar belum juga melamar. Aduh kasian banget yee. Padahal ternyata sebulan setelah saya di USA, si pacar melamar saya. Mungkin doa dari petugas kali ya. Eh tapi setelah saya tilik ternyata itu sebenarnya adalah pertanyaan jebakan karena sedianya saya yang datang ke USA dengan visa turis memang tidak boleh menikah. Mungkin banyak yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Kalau saya sendiri sih jawab jujur belum ada rencana nikah karena emang belum di lamar aja.

Doi juga sempat nanya kenapa saya yang selalu datang ke USA, saya bilang aja karena jatah cuti pacar saya tidak banyak, hanya dua minggu setahun. Eh, petugasnya kepo lagi nanya, emang saya kerja apa sampai bisa lama-lama di USA. Saya bilang aja sebelumnya saya wartawan, lalu saya sempat ikut working and holiday di Australia selama setahun dan sekarang saya freelance writer. Udah deh si petugas ga banyak cincong pas saya sempat sebut-sebut soal tinggal di Australia dan doi sempat bolak-balik halaman di passport saya, melihat travel history saya ke beberapa negara lainnya seperti Thailand, South Africa, China.

Kemudian si petugas memberikan stampel di passport saya dan menuliskan dengan pulpen tanggal terakhir saya bisa tinggal di USA. Biasanya tiap kali kunjungan ke USA, saya selalu mendapatkan masa tinggal selama enam bulan walaupaun kunjungan saya hanya dua hingga tiga minggu. Namun, untuk kali ini petugas memberikan masa tinggal 3 bulan lebih tiga hari. Tiket pulang saya tanggal 9 Maret 2016 dan petugas menulis tanggal saya bisa stay di USA hingga pada 12 Maret 2016. Mungkin dia khawatir kalau saya akan overstay. Saya sih tidak masalah di kasih tinggal hanya tiga bulan, toh saya juga tidak niat stay lebih dari tiga bulan.

Setelah selesai, sambilmenyerahkan passport saya, dia bertanya apa saya ada pertanyaan. Saya bilang saja saya sudah ketinggalan pesawat ke Cleveland karena harus stay untuk interogasi. Kemudian dia menuliskan sesuatu di kertas putih dan meminta saya untuk mendatangi maskapai yang saya gunakan. Katanya mereka akan mencarikan penerbangan selanjutnya untuk saya dan saya tidak perlu membayar lagi. Lega sekali mendengarnya.

o

Saya pun segera cabut dari ruangan itu dengan tak lupa mengucapkan terimakasih tapi tidak ingin jumpa lagi apalagi sampai masuk ruangan yang sama. Saat saya keluar dari ruangan, saya lihat semakin banyak orang-orang berwajah timur tengah menunggu di ruang tunggu dengan muka-muka lelah dan penuh kekhawatiran. Saya merasa bersyukur dapat segera keluar dari sana dan berjalan menuju pengambilan bagasi. Tentu saja bagasi saya tinggal satu-satunya dari penerbangan saya. Di Chicago sebagai bandara transit internasional saya harus ambil bagasi kemudian saya harus masukan lagi di perbangan domestik.

Saya berjalan menuju ke terminal penerbangan domestik. Saat itu merupakan kali kedua saya mendarat di Chicago sehingga saya tahu harus melangkah ke mana. Keluar dari kedatangan internasional, saya naik ke lantai atas untuk menggunakan semacam kereta yang menghubungkan antara terminal menuju ke terminal penerbangan domestik. Saat saya tengah menunggu kereta, saya bertemu dengan pria latin yang saya sempat  bertanya mengenai jam. Ternyata dia masih ingat dengan saya dan melempar senyum ke saya.

Kami pun sedikit berbincang selama menunggu kereta dan dalam perjalanan ke terminal penerbangan domestik. Jadi dari ceritanya, dia itu tinggal di Meksiko dan udah sering bolak-balik ke USA. Dia sempat digiring ke ruangan karena membawa cash dalam jumlah yang lumayan banyak, dia ga sebutin berapa. Cuma hal tersebut yang bikin petugas curiga dan bikin dia harus keluar masuk ruang interogasi, sampai-sampai kopernya diperiksa juga. Saking capeknya nunggu dan berbagai pertanyaan, katanya dia sempet bilang ke petugas, “If you not let me come to USA. Just send me back. I will be so glad,”

Terus doi juga sempet curhat, doi udah ketinggalan pesawat, saya lupa tujuannya ke mana gitu, dan dia tidak yakin ada penerbangan lainnya untuk malam ini atau tidak. Kalau tidak ada berarti dia harus menunggu sampai besok. Ternyata doi masuk ke ruang tunggu lebih dulu dari saya skeitar pukul dua sore dan baru keluar dari sana sama seperti saya sekitar pukul 7 malam. Saya aja yang masuk sekitar pukul 4 sore sudah seperti cacing kepanasan menunggu semua proses selesai. Dia sempat bertanya mengenai tujuan saya dan kami pun akhirnya harus berpisah saat tiba di terminal penerbangan domestik.

12696137_10153328091491301_528321158_nSaya segera menuju ke maskapai American Airlines dan menyerahkan kertas putih dari petugas. Saya kemudian ditempatkan di penerbangan pukul 22.00. Padahal ada penerbangan pukul 20.00 tapi sayangnya sudah penuh. Yasudah, saya pun pasrah harus menunggu lagi. Ternyata koper saya sempat kelebihan sekitar dua kg. Padahal waktu check in di Jakarta tidak masalah. Si petugas udah siap-siap mau mengenakan saya biaya tambahan.

Saya pun memasang tampang memelas dan bilang waktu cek ini di Jakarta tidak ada masalah dan saya baru saya kena masalah di imgrasi yang membuat saya ketinggalan pesawat karena harus menunggu tiga jam. Akhirnya tampang memelas dan keluh kesah saya berhasil membuat petugas bersimpati.

Petugas counter akhirnya bilang, “Ok, just this time,” ujarnya membuat saya mengucapkan banyak terima kasih. Urusan bagasi selesai, saya pun segera mencari di mana gate saya. Saya berusaha untuk menghubungi si pacar karena pasti si pacar sudah sampai di bandara dan mengira saya datang dengan penerbangan pukul 17.30. Seperti yang saya alami sebelumnya, dua handphone saya tidak mau terkoneksi pada wifi di bandara Chicago. Entah mengapa saya juga tidak mengerti.

Saya pun pasang muka tebal, menyapa seorang wanita berambut pirang berusia sekitar 20-an yang duduk di sebelah saya. Saya meminta tolong untuk dikirimkan satu sms bilang ke si pacar karena saya tidak bisa menghubungi dia dengan wifi yang tidak mau terkoneksi ke handphone saya. Dia pun tidak keberatan untuk mengirimkan satu sms ke pacar saya memberitahukan kalau saya naik penerbangan jam 10 dan akan sampai di Cleveland pukul 00.00. Penerbangan Chicago-Cleveland hanya sekitar sejam dan perbedaan waktu Cleveland sejam lebih dulu dari Chicago.

Si mbak pirang pun dengan senang hati mengetik sms ke si pacar dan menuliskan apa yang saya bilang. Si pacar hanya membalas, Ok and thanks. Saya pun mengucapkan terimakasih, ternyata masih banyak orang Amerika yang baik hati. Semua perasaan bercampur menjadi satu, dari merasa lega, tidak sabar mau ketemu si pacar, lelah karena perjalanan lebih dari 20 jam dan bosan karena mati gaya tidak tahu mau ngapain menunggu empat jam.

Saya pun  berjalan keliling sekitar gate hingga melihat adanya telpon umum, sayangnya saya tidak membawa recehan dollar. Akhirnya, saya harus membelanjakan selembar 50 dollar di Starbucks, tidak untuk membeli kopi tapi justru membeli tumblr dengan logo kota Chicago. Sudah cukup lama saya mencari tumblr Starbuck dengan logo nama kota-kota di Amerika Serikat tapi tidak pernah nemu satupun. Cukup aneh juga karena di negara asalanya, kedai kopi tersebut malah tidak punya tumblr dengan logo kota-kota di USA sedangkan dengan mudahnya saya bisa dapatkan tumblr dari berbagai negara di Eropa, Australia dan Asia. Beberapa tahun lalu sempat dijual tapi tiba-tiba saja sekrang sudah tidak ada lagi.

Dari hasil belanja di Starbuck akhirnya saya punya recehan untuk digunakan menelpon pacar melalui telpon umum. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menggunakan telpon umum di Indonesia. Lucunya, saya justru kembali memanfaatkan telpon umum di Amerika Serikat. Yah, apa daya, jaringan wifi yang tidak mau terkoneksi dengan handphone saya. Benar saja saat saya menghubungi si pacar, doi sudah nongkrong cantik di bandara Cleveland. Langsung saja saya ceritakan pengalaman saya digiring ke ruangan untuk diintrograsi panjang lebar. Sebelum saya menutup curhatan sekaligus menutup telpon, saya bilang ke pacar, “Pokoknya, saya ga mau balik lagi ke bandara Chicago. Kalau harus datang ke USA lagi pilih tempat transit lainnya,” ujar saya.

Sembilan bulan kemudian saya pun kembali ke USA dan mendarat kembali di Chicago. Untungnya visa yang saya gunakan bukan turis visa tapi visa tunangan sehingga petugas imigrasi pun tidak banyak cingcong. Jadi, akhir kata bagi siapapun yang ingin datang ke USA, persiapkan semuanya dengan lengkap. Mungkin jangan minum kopi di pesawat  sebelum mendarat.

Oh ya, satu lagi, saya belajar dari pengalaman saya bahwa mendapatkan visa bukan berarti kita sudah dijamin 100 persen bisa masuk ke suatu negara. Petugas imigrasi memiliki wewenang untuk tidak mengizinkan kita masuk ke suatu negara hingga memulangkan kita alias deportasi jika memang menilai ada hal yang mencurigakan dari kita. Kecurigaan paling sering yaitu penyalahgunaan visa, misalnya saja kita datang dengan visa turis dan dicurigai akan bekerja secara ilegal atau akan tinggal secara ilegal di suatu negara. So, goodluck guys!

***

 

Advertisements

8 thoughts on “Mimpi Buruk di Bandara Chicago, USA

  1. Hallo.met siang, saya susi,boleh saya minta sedikit info tentang working and holiday Australia.bagaimana cara mendapatkan working and holiday Australia,dan siapa siapa saja yg boleh ikut.apa boleh saya tanya2 melalui tlp.kebetulan saat ini saya sedang berada di US.
    Terima Kasih.

    Like

    • kl pakai spouse visa santai aja mbak. aku pas pake fiance ga di tanya apa2 sama petugasnya. ditanya nama aja ga beda bgt wktu dtg pake visa turis. apalagi spouse visa, 2mngu jg dah dpt greencard

      Like

  2. untung prosedur mrk cukup benar….jadi keputusan penolakan masuk ngak ditangan 1 orang….walaupun buang buang waktu…yah tapi mending deh….dibanding langsung jebret sama si jutek disuruh pulang…:D

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s