Segenggam Asa Mewujudkan “American Dream”

American dreams are strongest in the hearts of those who have seen America only in their dreams.”-Pico Iyer

Sudah delapan bulan lebih saya tinggal di Amerika. Kali ini tidak seperti persinggahan singkat saya di Belanda dan Australia. Sebelumnya saya hanya memiliki periode tinggal paling tidak hanya sampai setahun di negara Kincir Angin dan Negeri Kanguru tersebut. Menikah dengan warga negara Amerika, saya dan suami memutuskan untuk membangun keluarga kecil kami di negara asal suami. Buat saya, tinggal jauh dari negara asal bukan perkara besar karena selama beberapa tahun terakhir, saya mendapat kesempatan untuk tinggal atau sekedar berkunjung ke beberapa negara mulai dari Asia, Eropa, Australia, Amerika hingga Afrika.

AmericaLandOfOpportunity6x24

Jujur, sebelum saya mendapatkan kesempatan untuk bolak-balik ke Amerika Serikat hingga akhirnya menetap, tidak pernah memiliki keinginan menggebu untuk bisa tinggal di negara adidaya yang akhir-akhir ini semakin menjadi sorotan dunia karena Presiden Barunya. Sebagian orang mungkin punya apa yang disebut “American Dream”. Melihat Amerika sebagai “Land of Opportunity”, beberapa orang yang pernah saya ajak ngobrol baik dari Indonesia maupun beberapa negara lain sebut saja salah satu teman saya dari Venzuela berpendapat bahwa hidup di Amerika itu lebih enak. Meskipun pada kenyataanya tidak selalu seindah bayangan.

Beberapa bulan lalu saya sempat bergabung di salah satu group facebook yang berisikan orang-orang Indonesia di Amerika. Pada awalnya saya tidak bermasalah hingga pada akhirnya saya melihat seperti ada yang salah dengan group tersebut atau saya sendiri yang salah masuk lapak. Tidak bermaksud men-judge atau merendakankan pihak manapun, tapi saya sendiri cukup menyayangkan beberapa orang yang terkesan menjadi provokator dengan seolah memberikan pembenaran menjadi “ilegal” di Amerika. Bahkan beberapa di antaranya sudah puluhan tahun menjadi ilegal di Amerika.

Beberapa waktu lalu sempat ada semacam gerakan yang mencoba menggertakan keputusan President Trump terhadap para imigran dengan sebuah aksi “Day Without Imigrant”. Para imigran seolah ingin memberikan pelajaran kepada pemerintah Amerika bagaimana jika para imigran tidak melakukan rutinitas sehari-hari seperti bekerja, sekolah dan lainnya. Hingga keesok harinya, saya melihat tidak begitu berdampak dari aksi tersebut. Bahkan banyak imigran terutama yang legal memilih untuk tidak ikut-ikutan dengan aksi tersebut.

Saya memang belum lama tinggal di negara yang katanya dibangun dari para imigran ini tapi kabar mengenai banyaknya orang-orang yang rela hidup ilegal di USA sudah lama saya dengar. Mulai dari orang-orang dari negara tetangga Amerika seperti Meksiko hingga berasal dari negara saya sendiri. Sekali lagi saya tidak mau menghakimi apa yang menjadi pilihan orang-orang tersebut. Namun, ada hal-hal yang cukup menganggu pikiran saya terlebih setelah membaca beberapa postingan di group yang saya sebutkan di atas bahwa mereka sepertinya cukup bangga menjadi ilegal. Bahkan beberapa menganggap menjadi ilegal tanpa surat-surat lebih baik daripada pura-pura kawin kontrak untuk mendapatkan surat-surat.

Untuk urusan kawin kontrak sendiri saya tidak mau ikut menghakimi juga. Mungkin ada beberapa oknum yang melakukannya. Namun saya sempat dibuat gerah jika “mereka” menghakimi kami wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing (bule) untuk bisa tinggal di Amerika. Terutama bagi pasangan yang memiliki perbedaan umur yang jauh, mereka dianggap hanya sekedar pura-pura nikah. Padahal orang-orang yang menghakimi ini tidak tahu pasti apa yang terjadi, bisa saja mereka memang saling mencintai dan umur bukanlah penghalang.

Kalau pada akhirnya saya yang sudah dua tahun berpacaran dan akhirnya menikah dengan pasangan  yang kebetulan warga negara Amerika, kemudian saya tinggal di Amerika, Apakah salah? Jika ada rekan-rekan saya yang juga menikah dengan warga negara Amerika walaupun dengan rentan usia yang jauh, apakah itu salah? Lalu apakah mereka yang tinggal di Amerika tanpa surat-surat resmi, tidak membayar pajak, apakah salah? Silakan saja Anda yang menilai sendiri.

Terkait masalah legal dan ilegal di Amerika saat ini tidak lepas dari kebijakan presiden Amerika yang baru dilantik D. Trump. Dalam kampanyenya yang selalu kontroversial disebutkan ingin meng-kick out para imigran ilegal. Meskipun di beberapa media kerap diberikan bumbu tambahan untuk membuat berita semakin bombastis. Imigran ilegal yang menjadi target awal adalah mereka yang memiliki kriminal record kemudian akan disisir bagi imigran yang tidak memiliki surat-surat. Call me crazy but I’m totally agree with Trump? Why? No offense. Dari sudut pandang orang Amerika, pasti mereka tidak mau negaranya dipenuhi dengan para imigran yang datang secara ilegal dan membuat huru hara kriminalitas.

1521377_orig

Sementara itu dari kacamata imigran, saya datang ke Amerika dengan mengurus surat-surat resmi, bergelut dengan ribetnya proses birokrasi yang tidak hanya menyita materi tapi juga tenaga dan emosional. Bukan asal loncat perbatasan atau masuk dengan menggunakan visa tertentu dan memilih untuk stay berpuluh-puluh tahun tanpa surat-surat ataupun membayar pajak. Anyway, sekali lagi saya tidak mau terkesan menghakimi orang lain. Semua kembali lagi ke orangnya masing-masing. Mungkin beberapa mengatakan, “Yaelah, lo enak punya pilihan buat nikah sama orang Amerika dan enggak perlu jadi gelap,”

Pilihan hidup orang tergantung bagaimana orangnya, individu sebagai subjeklah yang membuat pilihan bukan pilihan sebagai objek yang menentukan subjek. Terkait soal pilihan, saya sendiri punya pengalaman beberapa tahun lalu saat saya tinggal di Belanda dan hanya memiliki visa satu tahun untuk tinggal di sana. Saya yang saat itu tengah menjalin hubungan dengan pria Inggris pun dihadapkan pada pilihan untuk kembali ke Indonesia atau menerima tawaran dari pacar untuk tinggal di Eropa. Namun, saya tahu untuk mengurus izin tinggal bukan perkara mudah dan saya merasa tidaklah worth it jika saya tetap stay di Eropa dengan status yang tidak jelas, terlebih lagi karena pacar yang saat itu saya tidak yakin 100 persen.

Beberapa teman sekolah bahasa Belanda saya dari negara tetangga, banyak melakukan praktik ilegal dengan tinggal di Belanda walaupun visanya sudah expired. Mereka menawarkan saya untuk mengikuti jejak mereka. Akan tetapi saya punya pilihan lain.  Saya sebagai subjek individu pun menentukan pilihan hidup saya. Meskipun saya sangat nyaman dan senang tinggal di Eropa (bahkan hingga kini saya masih punya Europian Dream dan bukan Americam Dream) tapi saya tidak begitu gelap mata untuk menyia-nyiakan kesempatan di masa muda saya dengan terbelenggu status ilegal.

Pilihan yang saya ambil untuk kembali ke Indonesia justru memberi saya peluang untuk melihat dunia ini secara lebih luas. Bekerja sebagai jurnalis seperti yang selalu saya impikan setelah lima tahun saya bergelut di bangku kuliah. Mendapatkan berbagai kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, bertemu dengan orang-orang yang sangat inspiratif hingga mendapat kesempatan emas mewawancarai tokoh penting. Bahkan sampai bisa mendapatkan kesempatan untuk doorstop dengan Presiden Indonesia Joko Widodo.

Saya juga yang menentukan untuk meninggalkan semua rutinitas dan ekslusivitas sebagai jurnalis saat datang kesempatan untuk mengikuti working and holiday di Australia. Kemudian tanpa saya rencanakan justru pilihan mengikuti WHV di Australia memberikan saya keberuntungan untuk travelling di beberapa negara di Asia seperti Thailand, China dan Hongkong hingga ke tanah Afrika.

20170603_132526

Jika banyak yang berpikir saya mendapat semua itu karena saya punya kelebihan materi. Anda salah, saya lahir di keluarga menengah. Semua biaya perjalanan saya sebagain besar saya biayai sendiri ataupun dapat secara gratis karena nasib saya yang beruntung dan kejelian saya untuk memanfaatkan peluang yang ada tapi masih sesuai dengan jalurnya. Saya pun tidak segan-segan untuk keluar dari comfort zone.

If you have dream, work hard to make it happen but better if you do in right way.

-me-

***

Advertisements

3 thoughts on “Segenggam Asa Mewujudkan “American Dream”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s