Cita Rasa Berpuasa di Empat Benua

Ramadan-Blog-1024x757Puasa di bulan Ramadhan menjadi kewajiban bagi setiap umat muslim untuk melaksanakannya, dimanapun dia berada. Baru beberapa hari lalu bulan Ramadhan meninggalkan saya, semoga saya masih dipertemukan untuk bulan Ramadhan berikutnya dimanapun saya berada. Saat ini saya tengah berada di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat. Sedikit menilik ke belakang beberapa tahun lalu, saya sempat mendapatkan kesempatan untuk merasakan bulan Ramadhan di beberapa negara dengan beberapa benua yang berbeda. Pengalaman antara satu dan lainnya sangat berbeda tapi tetap menjadi pengalaman yang menarik untuk saya.Saya lahir dan besar di Jakarta, Indonesia, dan kedua orangtua keturuan Jawa Tulen walaupun kadang banyak orang yang mengira saya berasal dari pulau Sumatera atau Sulawei tapi saya masih wanita keturunan Jawa kok cuma agak-agak terkontaminasi geliat ibu koita Jakarta saja. Sebagain besar hidup saya jalanin di Indonesia hingga saya lulus kuliah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Amsterdam, Belanda selama setahun. Kemudian kembali ke Indonesoia, bekerja sebagai wartawan (sesuai dengan pendidikan yang selama lima tahun saya habiskan di bangku kuliah) selama tiga tahun. Kemudian saya mencoba untuk sedikit bertualang (selagi masih sendiri) ke Australia dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Sydney selama setahun.

Seusai petualangan saya di Australia, saya yang sempat menjalin hubungan dengan pria Amerika yang kemudian menjadi suami saya, membuat saya saat ini pun mentap di Amerika Serikat tepatnya di Cleveland, Ohio. Mendapat kesempatan untuk tinggal di negara orang dan tetap menjalankan ibadah puasa untuk saya pribadi menjadi tantangan sekaligus pengalaman menarik.


Puasa di Asia

th_3094-happy-ramadanBerbicara soal puasa, pengalaman pertama saya berpuasa dimulai sekitar 24 tahun silam, ketika saya berusia enam tahun. Tentu saja semua bermula di tanah kelahiran saya Indonesia. Saya lahir dan besar di Jakarta.

Sejak kecil kedua orangtua saya mencoba mengajarkan saya untuk berpuasa. Seperti anak-anak lainnya, saya coba belajar puasa setengah hari. Saya masih awal-awal belajar puasa, saya selalu bertanya kepada ibu saya hampir setiap jam, “Sudah boleh buka belum?”. Dengan sabar ibu saya selalu menjawab, “Belum. Sudah sana main dulu,” kata ibu saya ketika itu.

Jam dinding menjadi sahabat sejati saya kala itu karena pandangan saya tidak lepas dari jam dinding dan berharap kedua jarumnya segera menuju ke angka 12. Sejalan dengan usia, saya pun mulai berpuasa sehari penuh saat saya berusia sekitar sembilan tahun dan berjuang sangat keras untuk bisa puasa selama sebulan penuh. Saat usia saya sekitar 11 tahun, saya mendapatkan “berkah” untuk tidak berpuasa dengan alasan “sedang berhalangan”.

Dibolehkan untuk tidak berpusa saat semua orang berpuasa antara berkah dan musibah. Berkah tentu saja saya tidak perlu bangun tengah malam untuk sahur dan menahan lapar dan haus seharian tapi menjadi musibah karena saya tidak bisa jajan dan yang jualan makanan pun jarang di siang hari. Mau makan dan minum pun menjadi sungkan dan harus ngumpet-ngumpet.

Selama saya tinggal bersama orangtua saya, saya tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan. Bangun tidur, semua sudah tersaji di meja, cuma tinggal makan saya. Namun, saat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Perjuangan menjadi anak rantau pun dimulai. Bangun tidur, mesti masak makan saur sendiri bersama teman-teman kos atau ya kalau malas masak biasanya beli makanan malam sebelumnya untuk dimakan. Kalau tidak, saya bersama beberapa teman kos pun sekali-kali mencoba makan saur di luar.

Awal-awal jadi anak kos, seminggu sekali pulang ke Jakarta apalagi pas bulan puasa. Lama kelamaan antara sudah terbiasa dan semakin sibuk dengan kegiatan kuliah, maka saya pun jarang pulang. Balik dari Amsterdam, saya mendapatkan pekerjaan di Bandung. Saya pun kembali menjadi anak kos. Bedanya waktu jaman kuliah, saking dekatnya hubungan antara anak-anak kos, kalau ada yang telat bangun kita suka saling membangunkan. Jaman jadi anak kos saat sudah kerja sangat berbeda. Lebih individualis, kalau telat bangun ya tanggung sendiri, tidak sahur ujung-ujungnya. Saya pun beberapa kali telat bangun sahur dan ujungnya ya saya harus mengkuatkan iman saya untuk bisa menuntaskan puasa hingga waktu berbuka.

Selain sahur, puasa di Indonesia seru dengan buka bersama atau bukber. Bukber jadi semacam tradisi untuk reunian. Mulai dari bukber teman-teman SD, SMP, SMA, kuliah hingga rekan kerja. Semakin bertambah pertemanan dan koneksi saya pun semakin bertambah jadwal bukbernya mislanya dengan teman-teman waktu di Eropa atau dengan teman kantor. Bahkan ketika saya jadi wartawan, hampir setiap hari saya bukber di luar karena undangan bukber dari para narasumber berjejer seperti kereta api.

Bicara puasa, pastinya biacara soal makanan. Sudah pasti makanan-makanan jaman puasa di Indonesia seperti gorengan, bihun, es-esan menjadi sajian utama. Walhasil setiap selesai puasa, timbangan serasa sama saja bahkan kadang justru naik. Keseruan-keseruan menjalankan bulan puasa di tanah air seperti sudah melekat di diri saya. Banyak hal-hal yang saya rindukan saat menjalankan puasa sebagai anak rantau di negeri orang. Kalau sebelumnya cuma jadi anak rantau di kota orang yang jaraknya cuma 2-3 jam perjalanan dari rumah. Saat ini, langkah kaki saya membawa saja berpuluh ribu kilometer jauh dari rumah.


Puasa di Eropa

Fasting-in-SummerTahun 2011, pertama kalinya saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk merasakan suasana berpuasa di negeri kincir angin Belanda. Ketika itu, puasa jatuh pada bulan Juli yang mana bertepatan dengan musim panas. Sudah tentu matahari bersinar lebih lama daripada biasanya.

Puasa pun berlangsung cukup panjang dari sekutar 2.30 am sampai pukul 9.30 pm. Saya yang ketika itu mempunyai rencana untuk Eurotrip pun harus memajukan jadwal jalan-jalan keliling Eropa sebelum bulan puasa. Jadi selama bulan puasa, saya sudah siap-siap mendekam di rumah saja. Bahkan saya pun harus menolak ajakan keluarga angkat saya untuk berlibur ke daerah Prancis Selatan pada bulan puasa.

Puasa pertama saya di Belanda hanya sanggup saya lakukan selama 2 minggu. Seminggu saya tidak berpuasa karena “berkah menjadi wanita” alias PMS. Seminggu sisanya saya sempat sakit setelah merasakan puasa selama seminggu, saya pun tumbang. Terus terang saja saya kurang persiapan menjalankan puasa pertama dengan waktu yang sangat panjang. Saya pun salah menjalankan strategi, bukannya mengisi perut dengan banyak minum, saya malah mengisi perut dengan banyak makan.

ramadan-quotes-6Waktu imsak ketika itu sekitar pukul 2.30 sedangkan waktu berbuka puasa jam 9.30, membuat saya tidak punya banyak waktu untuk makan. Bodohnya walaupun dengan waktu yang sedikit saya tetap menjejalkan perut dengan makanan. Selesai berbuka puasa kira-kira pukul 11.00 atau 11.30 malam terus jungkir balik solat Isya dan taraweh sendiri. Sekitar jam 12-an baru tidur. Kemudian sekitar jam 2 dini hari harus bangun buat makan sahur. Dengan pola makan seperti itu, selama seminggu akhirnya suatu malam saya tumbang juga. Sepuluh menit setelah imsak saya pun muntah-muntah. Pasta yang jadi makanan buka dan sahur pun keluar semua. Akhirnya saya pun tumbang. Selain salah strategi makanan dan minum selama puasa, saya juga salah memilih menu berbuka dan saur. Makanan yang saya pilih yang penting bikin kenyang saja tidak begitu memperhatikam kadar protein dan gizi lainnya.

Dengan pola makan seperti itu, selama seminggu akhirnya suatu malam saya tumbang juga. Sepuluh menit setelah imsak saya pun muntah-muntah. Pasta yang jadi makanan buka dan sahur pun keluar semua. Akhirnya saya pun tumbang. Selain salah strategi makanan dan minum selama puasa, saya juga salah memilih menu berbuka dan sahur. Makanan yang saya pilih yang penting bikin kenyang saja tidak begitu memperhatikam kadar protein dan gizi lainnya.

Meskipun saya harus bersantap sahur seorang diri dan sebagian besar berbuka juga sendiri tapi pengalaman pertama puasa di negeri orang bisa dibilang cukup seru. Terutama saat saya tinggal dengan host family yang non muslim serta lingkungan sekitar yang mayoritas tidak berpuasa. Host family dan beberapa teman-teman yang berasal dari Eropa sempat mempertanyakan “keamanan” dari berpuasa di musim panas bagi tubuh kita. Beberapa diantaranya menganggap hal tersebut merupakan hal yqng tidak mungkin dilaksanakan.

“Kalau enggak makan seharian masih mungkin tapi kalau enggak minum. Apalagi cuaca panas beginu, mana mungkin. That’s crazy,” komentar beberapa teman-teman bule saya. Saya pun bisa membuktikan selama dua minggu bisa berpuasa di musim panas, menahan haus dan lapar hampir 20 jam.

Lucunya, selain sebagain besar dari orang-orang di sekitar saya yang menilai melakukan puasa di musim panas merupakan suatu yang mustahil. Banyak pula yang sempat salah kaprah dengan aturan berpuasa yang saya jalanin. Salah seorang teman Belanda saya berpikir berpuasa hanya tidak makan saja tapi tetap minum. Oleh karena itu dia sempat mengajak saya hangout walaupun saya sudah bilang saya sedang berpuasa. Lucunya, dia malah malah ajak saya ke cafe untuk minum kopi. Pas ditanya saya mau pesan apa, saya bilang saya berpuasa.

“I know you are fasting but you can drink right?”

“No. Fasting means no eat no drink,” ujar saya.

“Oh sorry. I though you allow to drink,” ujarnya yang merasa bersalah. Kami pun akhirnya hangout duduk-duduk di taman sampai waktu saya berbuka. Selama beberapa jam kedepan, setiap jamnya, si teman saya itu selalu bertanya kapan saya boleh makan dan minum. Saya jadi mikir yang puasa siapa yang nanyain jam buka siapa.

Meskipun sebagian besar kegiatan saya selama puasa cuma leye-leye di rumah aja. Ada kalanya saat saya hangout bersama teman-teman bule yang tidak puasa, dan dengan segarnya mereka makan dan minum di depan saya tapi saya sih santai-santai saja. Mereka justru berakli-kali bertanya apa saya tidak apa-apa. Saya selalu menjawab ,”Im fine'” sambil menelan ludah yang hampir kering.

Tidak hanya hangout bersama teman-teman bule, saya cukup beruntung memiliki teman-teman Indonesia selama saya di Belanda dan hampir sebagian besar pun menjalankan puasa. Meskipun begitu berpuasa tidak menghalangi kami untuk hangout ria malam-malam karena kalau siang-siang kami tidak ada energi.

Setelah berbuka puasa, saya dan beberapa teman pun sempat meluncur ke pusat hiburan malam di Amsterdam pada suatu malam. Kami menghabiskan malam dengan berjoget-joget menikmati alunan musik di klub malam langganan kami dari DjJ favorit. Sebelumnya kami sepakat untuk keluar dari klub malam sekitar pukul 12.30, kemudian makan sahur dan pulang ke rumah salah satu teman.

Sesuai dengan kesepakatan, kami pun keluar dari klub pukul 1 malam dan berjalan beriringan mencari tempat untuk makan sahur. Tentu saja tidak banyak pilihan tempat makan, kami pun makan sahur di Burger King, satu-satunya fast food yang terdekat dan masih buka di tengah malam buta. Makan sahur alakadarnya dikelilingi muda-mudi Eropa yang juga beberapa diantaranya terlihat mabuk dan sebagian besar pastinya kelaparan tengah malam sehabis ajeb-ajeb.

Tidak lama setelah makan sahur alakadarnya, kami pun berjalan pulanh menuju halte bis yang setelah pukul 12 malam hanya berhenti setiap sejam sekali. Sepanjang jalan, suara musik terdengar dari klub-klub malam yang masih ramai didatangi para pecinta hiburan malam Amsterdam. Namun, sayangnya jam malam kami mengharuskan kami untuk pulang. Kami pun pulang ke salah satu kediaman teman. Sayarang teman sempat berkelekar, “Hidup harus imbang antara dunia dan akhirat. Ajeb-ajeb jalan, puasa juga jalan,” ujarnya kala itu.


Puasa di Australia

RNS-FATWA-RAMADAN bPada 2015, saya mendapat kesempatan untuk kembali merasakan puasa di negeri orang. Kali ini di negeri Kanguru Australia. Saya yang tengah menjalankan program working amd holiday pun akhirnya bisa merasakan puasa kurang dari 12 jam. Puasa yang jatuh pada bulan Juni di Australia bertepatan dengan musim dingin sehingga waktu siang pun lebih pendek. Lokasi geografis Australia membuat musim dingin di Australia jatuh di pertengahan tahun di mana negara-negara di benua Eropa dan Amerika Serikat lagi panas-panasnya merasakan sensasi musim panas.

Puasa di Australia berlangsung sekitar 10 jam dengan imsak jam 5.30  lebih dan magrib sekitar 16.30 lebih sedikit. Cuaca yang dingin pun membuat pasokan air liur lumayanlah tidak kering-kering banget. Berbeda dengan saat saya di Belanda, untuk makan sahur saat saya berpuasa di Australia, saya hanya minum satu liter air. Alasan pertama karena waktu puasa tidak begitu panjang dan saya yang sedang dalam program diet kala itu pun agak-agak males bangun subuh buta untuk makan.

Hasilnya sebulan puasa lumayan berat badan turun 3 kilogram plus selama puasa saya tidak merasa lapar atau haus berlebihan. Selain makan sahur, untuk kegiatan keseharian pun selama saya di Australia bisa terbilang lumayan padat. Saya yang tengah menjalankan working and holiday pun tetap bekerja normal dari jam 7 sampe jam 4 sore. Bahkan saat itu saya pun mulai dengan sekolah bahasa Inggris yang mulai pukul 5 sampe pukul 9 malam, dengan waktu istirahat sekitar setengah jam.

Kadang untuk berbuka puasa saya bawa bekal seadanya atau kalau beli pun paling cemilan-cemilan saja. Saat pulang kerumah pun kadang merasa malas untuk membuat makan malam. Jadi ujung-ujungnya paling makan buah atau malah langsung tidur tanpa makan. Kecuali jika host family saya kebetulan masak, biasanya mereka menyisihkan untuk saya.

Seperti juga di Belanda, beberapa teman-teman saya serta host family di Australia sempat meragukan saya untuk berpuasa. Mereka yang memiliki badan berkali-kali lipat lebih besar dari saya merasa tidak mampu untuk berpuasa. Padahal kalau dipikir-pikir sih bisa aja kalau mau kan semuanya berawal dari niat. Selain itu, berkali-kali saya pun harus menjelaskan makna puasa, aturan-aturan berpuasa kepada teman-teman asing saya ini. Lucunya host family saya dengan bangganya selalu cerita ke teman-temannya “how amazing” Widi kuat enggak makan dan minum selama sebelas jam. Padahal kalau di bandingkan sama puasa di Indonesia dan Belanda mah termasuk lebih singkat di Australia.

Meskipun jam puasa lebih singkat, puasa di Australia memiliki cobaan tersendiri, terutama karena saya tinggal di dekat pantai yang menjadi favorite di Sydney. Apalagi cobaanya kalau bukan para surfer yang kerap bertelanjang dada bertebaran dimana-mana. Harus banyak-banyak istigfar itu mah. Hehehehe


 Puasa di Amerika

a96471323611658daf72f46dbd5f2fc2

Nah kalau pengalaman puasa di Amerika Serikat masih hangat-hangatnya, baru beberapa hari lalu selesai dilaksanakan. Sebelumnya, sekitar sebulan sebelumnya saya sempat khawatir apakah saya mampu menjalankan puasa di Amerika Serikat yang notabene jatuh di musim panas. Pengalaman puasa di Belanda beberapa tahun silam yang juga jatuh pada musim panas membuat saya semakin khawatir. Terlebih saya akan menjalankan ibadah puasa sambil tetap beraktivitas normal dengan bekerja.

Saya sempat membayangkan, saat di Belanda saya kerjanya cuma leyeh-leyeh di rumah saja membuat puasa terasa berat dengan waktu yang panjang. Apalagi saat ini saya yang bekerja sebagai guru preschool yang mempunyai delapan anak usia 2,5 hingga 3 tahun di dalam kelas yang membuat saya banyak teriak- teriaknya dan lari sana-sini.

Namun , nyatanya, semua kekhawatiran saya itu tidak terbukti. Ajaibnya selama puasa 16 hingga 17 jam saya bahkan tidak merasa super dehidrasi atau kelaparan. Justru pekerjaan saya dari pagi sampai sore menyibukkan saya hingga saya lupa waktu. Bahkan dengan keseharian saya yang banyak ngomong dan teriak-teriak sekaligus bergerak kesana-kemari bersama anak-anak di kelas tetap saja jalani dengan semangat 45. Dua minggu terakhir sebelum lebaran, saya sedikit “berolahraga”. Saya yang males nunggu suami jemput (saya selesai kerja dan 3 sore dan suami baru menjemput jam 6 sore) dan  dengan keterbatasan saya yang tidak bisa menyetir mobil memutuskan untuk jalan kaki selama sejam menuju apartemen. Ditambah selama seminggu matahari lagi panas-panasnya mencapai 33 derajat celcius but Im still alive. Hehehe.

Selama berpuasa di Amerika, saya tidak begitu sering merasa dehidrasi akut, sekali-kalinya saya merasa super kehausan saat saya dan suami ke berjemur di pantai pada suatu weekend yang cerah. Ini mah saya aja yang cari penyakit, dengan cuaca 30 derajat lebih, lagi puasa dan malah ngajak suami  jadi jemuran di pantai. Udah mana pantainya ramai macam pantai di Ancol pas lebaran. Sempat tergoda mau batal puasa sakit panasnya dan persediaan air liur di keorngkongan sudah diambang batas tapi untung masih tahan iman dan suami terus menyemangati saya untuk tetap berpuasa.

Kalau saat puasa di Australian, godaan mata datang dari para surfer yang suka bertelanjang dada. Nah kalau di Amerika, godaan terbesar justru karena keberadaan suami. Puasa kali ini merupakan puasa pertama saya setelah menikah. Biasanya kalau bangun tidur aatau berangkat dan pulang kerja ada ritual kiss bye di bibir dari suami, maka selama puasa harus dilewatkan ritual tersebut. Selain itu, masih banyak godaan dari suami lainnya yang tidak perlu saya tulislah ya di sini.

Sahur saya selama menjalankan puasa di Amerika tidak jauh-jauh dari sebotol air minum. Kadang minumnya pun sambil merem saking ngantuknya. Jam tidur saya memang cukup bergeser karena jam buka puasa pukul 9 malam membuat saya baru selesai makan sekitar pukul 10 malam. Supaya perut tidak semakin membuncit, saya pun mencoba tidak langsung tidur sehabis berbuka walaupun mata sudah 5 watt. Biasanya saya baru tidur di atas jam 12 malam.

Alhamdulilah, puasa saya di Amerika bisa dijalankan lancar jaya tanpa halangan berarti. Kalaupun saya tidak berpuasa itu karena “hadiah” bulanan sebagai wanita. Meskipun saya sempat juga beberapa kali tidak bangun sahur, saya pun masih bisa menuntaskan untuk berpuasa selama 16 jam.

Semuanya kembali lagi kepada niat, di negara manapun, di musim apapun puasa dijalankan. Selama memiliki niat kuat pasti semuanya bisa dijalankan dengan lancar.

Semoga, saya kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan selanjutnya, di negara dan benua manapun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s