Living The American Life

19349223_10154592554606301_59827692_o

“Di mana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”

Pribahasa yang artinya sebaiknya kita selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada itu menjadi pegangan saya setiap kali melangkahkan kaki saya di negara manapun. Paling tidak hal tersebut membuat saya mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar tanpa kendala berarti.Sebelum saya menikah dan akhirnya tinggal di Amerika, saya sudah beberapa kali bolak-balik ke Amerika Serikat. Bisa dibilang saat ini saya tidak terlalu mendapatkan culture shock yang membuat saya ternganga lebar. Namun, tentu saja pertama kali menginjakakan kaki di Amerika hingga kini, masih ada beberapa hal mengenai kehidupan di Amerika Serikat yang terbilang baru untuk saya.

Jika saya bandingkan dengan kondisi di negara asal membuat saya kadang tidak habis pikir. Namun, seperti pribahasa “Di mana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”. Intinya saya pun harus bisa beradaptasi. Meskipun adaptasi bagi sebagian orang bukan perkara mudah tapi bagi saya bukan perkara sulit pula. Selama dasarnya berpikir terbuka dan saling menghormati.

Setahun lebih tinggal di negeri Paman Sam terdapat beberapa hal bagi saya cukup menarik mengenai kehidupan di Amerika. Banyak yang yang berbeda dari negara asal saya di Indonesia atau beberapa negara di mana saya pernah tinggal seperti Australia dan Belanda. Berikut beberapa hal tersebut.


Big Portion

Hal pertama yang sempat membuat saya takjub saat pertama kali mengunjungi Amerika hingga saat ini adalah porsi makanannya yang “BIG”Saya sendiri bukan tipe orang yang makan dalam porsi besar. Jadi saat pertama kali saya memesan sandwich di mall, saya pun harus membungkus setengahnya untuk di bawa pulang dan dimakan keesok harinya. Secara setengah porsi saja sudah bikin perut saya kekenyangan.

Kebiasaan membawa sisa makanan saat makan di luar merupakan hal yang lumrah dilakukan di Amerika dan saya hampir selalu melakukannya setiap saat. Mau makan sandwich, burger, atau jenis makanan lainnya, saya pasti langsung menyerah dan meminta kepada waiter untuk membawakan kotak  biasanya terbuat dari steryfoam) untk membungkus makanan.

22553824_10154930139456301_634319956_oNamun, ada satu tempat di mana saya tidak membawa pulang makanannya, yaitu di restoran all you can eat. Saya dan suami sempat dua kali mampir ke restoran all you can eat. Empat jam kami berada di restoran, sampai-sampai saya dan suami keluar dari restoran seperti orang hamil dengan perut buncit. Meskipun saat datang ke sana kami dalam kondisi perut kosong dan kelaparan.

Selain makan di luar, porsi besar juga saya temui saat memesan pizza, karena suami saya dan saya punya tipe topping pizza yang berbeda. Jadi kalau saya mau beli pizza, kami membeli terpisah. Konsekuensinya saya harus menghabiskan satu loyang reguler (tapi tetap saja jumbo ukurannya) seorang diri. Bahkan saya membutuhkan tiga hari untuk menghabiskannya makanya saya jarang banget makan pizza karena sudah blenger duluan kalau ingat harus menghabiskan satu loyang besar sendirian.

Porsi makanan yang besar ini yang bikin saya agak parno, setiap habis makan selalu merasa bertambah timbangan berkilo-kilo. Kalau melihat di pemberitaan dan dari apa yang saya lihat di Amerika, memang ukuran tubuh orang Amerika besar-besar. Berkali-kali lipat ukuran tubuh saya yang buat ukuran orang Indonesia terbilang sedang-sedang saja.

Tidak hanya ukuran porsi makanan yang jumbo, ukuran minuman juga terbilang besar. Kalau saya beli soft drink di fast food ( jarang banget) yang ukurannya untuk regular saja sudah seperti large. Sudah kembung duluan saya, ujung-ujungnya saya kasih ke suami. Mayoritas orang Amerika memang gemar minum soda. Sebagian besar malah meminumnya sejak kecil.

Selain ukuran makanan dan minuman, rasa makanan dan minuman untu makanan yang manis sangaaaattttt manis. Entah berapa karung gula yang dipakai. Positifnya dengan porsi makanan dan minuman yang besar saya jadi semakin semangat buat olahraga. Berasa bersalah kalau tidak berolahraga sehabis makan-makan yang bikin perut membuncit. Saya juga lebih memilih untuk membuat snack atau dessert sendiri di rumah daripada harus membeli di luar yang kadag rasa manisnya mengalahkan kemanisan saya. Jk 😀


Free Soda (Refill)

22547018_10154930134136301_427406418_oPertama kali diajak nge-date suami dua tahun lalu. Suami sempat memesan cherry pepsi, minuman soda kedemenannya. Saya sempat bingung, setiap gelas suami mulai kosong, pelayan selalu mengisinya kembali sampai penuh berkali-kali, ada kali tiga kali lebih.

Saya sempat kaget ternyata suami (pacar ketika itu) hanya membayar harga segelas. Mulailah saya mengetahui bahwa jika memesan soda di hampir semua restoran di amerika, kita akan mendapatkan free refill hanya dengan membayar untuk segelas seharga sekitar 2.5 USD. Ah pantas saja orang Amerika minum soda sudah seperti minum air putih.

Suami bahkan sempat bilang, harga soda lebih murah daripada air putih kalau beli di mini market tapi kalau mau minum air putih di restaurant tidak akan dipunggut biaya kok alias gratis. Biar enak, saya suka minta ditambah lemon di dalam air putih. Selain soda, ada juga minuman lainnyan yang free refill seperti es teh dan kopi. Pelayan akan mengisi gelas kita sampai penuh saat melihat gelas kita sudah mulai kosong.


Tips and Tax

Kalau di beberapa negara makan di restoran tidak wajib memberikan tips kepada pelayan atau kalaupun mau memberi tips ya boleh-boleh aja dan tidak dipaksakan. Namun, di Amerika, jika kita makan di restauran kita wajib memberikan tips kepada pelayan karena tips yang diberikan akan menambah gaji pelayan ( biasanya di bawah minimum). Akan tetapi tips dari konsumen tidak langsung masuk kantong pribadi pelayan saat itu juga. Tipsnya biasanya akan dikumpulkan di pihak restauran dan akan diberikan bersamaan dengan pemberian gaji biasanya setiap dua minggu.

Oleh karena itu hampir semua restauran di Amerika berusaha mengedepankan service. Kalau konsumen senang maka ada kemungkinan dapat tips besar tapi ada juga sih pelayan yang menyebalkan dan kurang ramah. Untuk nominal tips juga beda-beda tiap orang. Kalau kata suami saya, dia biasanya memberikan sekitar 20 persen dari total makanan yang di bayar. Kalau pelayanannya memuaskan dia bisa memberi lebih dari 20 persen. Oleh karena itu seperti yang bilang di atas, pelayan selalu mengecek konsumennya setiap 10 menit sekali, menanyakan pendapat mengenai makanan hingga jika ada hal lain yang perlu di bantu dan tentunya tidak lupa mengisi gelas yang kosong dengan minuman refill.

Selain tips, di Amerika harga makanan sedikit berbeda kalau kita makan di tempat atau dibawa pulang. Kalau makan ditempat, konsumen akan dikenakan pajak sedangkan kalau di bawa pulang tidak perlu bayar pajak. Pajaknya tidak besar sih, sekitar 1 atau 2 dollar tambahannya tergantung setiap restaurant dan setiap kota amuapaun negara bagian. Jadi kalau mau makan di fast food macam McD, KFC dan teman-temannya kalau mau duduk di resto bayarnya sedikit mahal daripada kalau carry out.


Supermarket 24 Jam

Kelaperan tengah malam atau mau belanja tengah malam tidak perlu khawatir karena di USA beberapa supermarket buka selama 24 jam nonstop. Benar-benar supermarket loh ya bukan sekedar mini market seperti yang banyak buka di Indonesia. Sekitar daerah tempat tinggal saya di Solon, Ohio paling tidak ada dua supermarket yaitu Walmart dan Giant Eagle yang buka 24 jam setiap hari. Kadang jika sedang iseng ingin jajan tengah malam, saya dan suami pun kerap melipir ke supermarket. Atau jika kami sedang ingin belanja tanpa perlu mengantri panjang di kasir maka kami biasanya datang ke supermarket menuju tengah malam.

Sampai saat ini saya melihat dari segi keamanan sangat aman, paling tidak saya tidak pernah melihat adanya tindakan kriminal menjelang tengah malam. Paling yang ada sedikit hal aneh-aneh di supermarket menjelang tengah malam seperti bocah-bocah abg yang kalau belanja agak teriak-teriak. Saya sendiri belum pernah melihat orang mabok di supermarket pada tengah malam. Di beberapa supermarket seperti Giant Eagle, biasanya mereka memiliki beberapa polisi berseragam yang menjaga toko. Jadi ya jangan macam-macam kalau tidak mau digiring. Saya sendiri merasa keberadaan supermarket yang buka 24 jam ini cukup menguntungkan jika ada kepentingan mendadak, mislanya saja lapar mendadak tengah malam. hehehe.


Fast food di Setiap Pengkolan

Amerika Serikat dan Fast Food? Jangan ditanya seberapa erat hubungan mereka. Sudah bagaikan ibu dan anak. Alias sebagain besar fastfood yang memiliki frenchies di seluruh dunia itu berasal dari Amerika Serikat. Sudah menjadi rahasia umum seberapa besar kecintaan masyaraat Amerika mengonsumsi fast food sehingga tidaklah mengherankan kalau hampir disetiap pengkolan ada namanya fast food bertebaran. Sejauh mata memandang kiri, kanan, depan belakang pasti saja ada fast food yang berdiri, sebut saja yang fast food yang terkenal di Indonesia semacam McDonald, KFC, Pizza Hut, Burger King, Wendy’s, Popey, Domino Ada pula beberapa fast food baru yang saya temui saat berada di Amerika Serikat seperti Taco Bell, Arby, White Castle, Subway, Penn Station.

Saya sendiri bukan penggemar berat fast food apalagi menu fast food di sini tidak dilengkapi nasi macam beli di Indonesia. Beberapa menu juga berbeda seperti di KFC di Amerika hanya menjual aya, saja tanpa nasi tentunya dan tanpa menu hamburger. Sementara itu untuk di McDonald hanya dijual burger tanpa dijual ayam. Hal serupa juga terjadi di Wendy’s dan A&W.

Berbicara soal A&W, beberapa waktu lalu saya sempat penasaran dengan fast food yang satu ini. Keberadaanya di daerah tempat tinggal saya tidak cukup menjamur. Setelah bertanya kepada Mbah Google ada juga beberapa resto yang lokasinya lumayan juga sekitar 30-45 menit. Itu pun yg paling dekat dari tempat saya tinggal

Selain fasfood ada pula beberapa jenis restauran yang hampir di semua tempat ada seperti Bob Evans, Ruby Tuesday, Ihop, Long Horn, Outback dan masih banyak lagi. Sebagain besar menu yang ditawarkan tidaklah jauh berbeda. Tipikal menu Amerika Serikat dengan sandwich, steak, burger, salad dan teman-temannya. Kalau cari sambel dan kerupuk sudah pasti tidak ada lah.


“Wajib” Bisa Nyetir

Selama tinggal di Indonesia saya selalu kemana-mana dengan menggunakan transportasi umum mulai dari ojek, taksi, angkot, bis atau yang lagi hits akhir-akhir ini seperti grab maupun uber. Sementara saat saya tinggal di Amsterdam dan Sydney yang terbilang kota besar dengan sistem transportasi yang sungguh memadai, saya pun masih suka keliling kota dengan menggunakan transportasi umum seperti tram, metro dan bus di Amsterdam atau dengan bus, kereta hingga ferry saat saya berada di Sydney.

Namun saat saya berada di Amerika Serikat, saya perhatikan jarang sekali ada kendaraan umum di beberapa kota kecil. Mungkin kalau di kota sekelas New York yang memang sejajar dengan Amsterdam dan Sydney, transportasi umum seperti bus dan kereta bawah tanah atau metro sangat mudah dijumpai. Sementara di tempat saya tinggal di Solon, Ohio yang terletak 30 menit dari pusat kota Cleveland tidak ada namanya tram atau metro. Kereta pun hanya mengangkut barang bukan penumpang. Sementara untuk bus, saya sempat melihat beberapa bus melintas tapi jarak dari rumah saya ke halte bus dengan berjalan kaki bisa sekitar sejam lebih. Haduh sudah gempor duluan.

Suami saya bilang, rata-rata orang Amerika terutama mereka yang tinggal di kota pinggiran atau daerah-daerah terpencil mengandalkan mobil pribadi sebagai sarana transportasi. Saya perhatikan memang di halaman rumah orang-orang Amerika, satu rumah bisa sampai punya 3 atau empat mobil. ” You cant live in USA if you cant drive,” kata suami saya makanya dia sangat semangat mendorong saya untuk belajar menyetir.

Belajar menyetir di Amerika juga bukan perkara mudah. Pertama letak kemudi di Amerika berada di sebelah kiri sedangkan kursi penumpang di sebelah kanan. Hal ini sama dengan letak kemudi mobil saat saya di Belanda. Sementara di Australia sama halnya dengan di Indonesia di mana letak kemudi berada di kanan. Nah buat saya belum pernah nyetir baik di kanan atau kiri sebenarnya tidak berpengaruh besar tapi masalahnya untuk belajar menyetir saya harus mendapatkan izin terlebih dahulu. Untuk mendapatkan izin belajar menyetir saya pun harus lulus tes. Setelah mendapatkan izin belajar meyetir, baru saya bisa mulai belajar meyetir. Itu pun harus didampingi oleh orang yang yang cukup umur dan berpengalaman.

Sampai sekarang saya masih malas-malasan disuruh belajar nyetir. Kemana-mana masih mengandalkan suami. Kalau suami enggak bisa nganter atau jemput ya terpajsa jalan kaki. Seperti setiap saya pulang kerja yang mana saya selesai kerja sekitar jam 3 sore. Kalau malas nunggu suami jemput 3 jam kemudian maka saya pun jalan kaki pulang ke apartemen. Jarak tempuhnya lumayanlah sejaman. Itung-itung olahraga dan sun bathing gratis panas-panasan.


Bendera Amerika

Mendekati 4th of July, saya lihat semakin banyak bendera Amerika berkibaran dimana-mana. Sebagian besar supermarket, kantor pemerintahan dan beberapa tempat publik lainnya. Namun jauh sebelum mendekati hari kemerdekaan Amerika pun beberapa tempat sudah mengibarkan bendera Amerika. Bahkan kediaman pribadi pun banyak yang memasang bendera Amerika di depan halaman rumah mereka.

19213044_10154592554476301_1044830210_o

Saya mulai menyadari fenomena sangat nasionalisnya orang Amerika ini saat jalan-jalan keliling komplek dan mendapati pemandangan hampir setiap rumah memasang bendera kebanggaanya. Jik saya bandingkan dengan di Indonesia, pasang bedera di rumah baru rame pas deket-deket tujuhbelasan. Bukan cuma di Indonesia aja, di beberapa negara dimana saya sempat tinggal seperti di Belanda dan Australia, jarang sekali saya lihat rumah-rumah pasang bendera. Ya kalau kantor- kantor pemerintahan dan ruang publik sih wajarlah. Melihat dari perbandingan itu, enggak salah kalau saya simpulkan orang-orang Amrik ini banyak yang berjiwa nasionalis dan patriotisme (enggak tau juga ya bener apa enggak).

Kalau kata suami mah ,” Because they are patriotic and care about the country,”. Nah tempat tinggal kami sendiri belum ada pasang-pasang bendera Amerika. Kalaupun nanti bakalan pasang, sebelah bendera Amrik bakalan dipasang merah putih kok. Biar seimbang.


Minum air tap

Sebenarnya kebiasaan minum air tap atau langsung dari kran ini sudah mulai saya lakukan sejak saya tinggal di Belanda dan Australia. Pertama kali nyoba minum air dari kran waktu di Amsterdam. Sempet ngerasa aneh minum air mentah karena ya kalau di Indonesia mitosnya bisa sakit perut kalau minum air belum dimasak. Ya tapi kan yah air Amsterdam mah beda, sudah melalui penyulingan dan berbagai teknologi penjernihan air lainnya. Jadi minum air mentah pun ga pernah sakit. Begitu juga saat saya tinggal di Sydney, minum air putih langsung aja ngucur dari kran. Kadang sambil cuci tangan sambil minum juga airnya.

Nah waktu di Amerika, awalnya suami malah ngelarang saya minum air dari kran karena dia ngerasa airnya berasa aneh. Jadi aja dia beli air kemasan botolan berpak-pak. Namun setelah kita pindah apartemen ke lingkungan yang lebih baik. Rasa airnya pun ga aneh lagi dan kita pun mulai minum air dari kran setiap saat. Enggak perlu lagi beli berpak-pak air kemasan. Lumayan menghematlah ya. Selain itu juga minum air dari kran sudah menjadi kebiasaan, enggak cuma di rumah tapi juga di tempat kerja dan beberapa tempat lainnya.


Jangan Baperan

Istilah baper atau bawa perasaan yang akhir-akhir ini ngetrend sengaja saya pake. Moto hidup saya simpel, dont judge, dont baper. Santai aja kayak di pantai. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun lalu, Amerika memang menjadi pusat perhatian dunia dari berbagai segi. Terlebih akhir-akhir ini dengan tree rpilihnya presiden Amrik yang sangat fenomenam sempat membawa banyak isu-isu sensitif ke permukaan. Mulai dari soal agama, ras, kecenderungan seksual, politik sampe perang segala. Semua isu-isu panas tu tentunya kerasp menjadi pembahasan di keseharian orang-orang Amerika.

Saya sebagai imigran, minoritas tentunya jadi sasaran empuk buat “dibully” tapi tenang ga ada yang bully saya juga kok. Namun tidak dipungkiri dalam sesi pertemuan makan-makan atau hangout bersama teman-teman suami yang orang-orang Amerika beberapa waktu lalu, mereka sempat banyak membahas soal Trump, muslim, teroris, imigrasi, ras dll. Semua yang mereka bicarakan itu bisa dibilang bagian dari diri saya tapi saya sih santai- santai aja dengerinnya.

Bukannya enggak peduli saat mereka berbicara mengenai muslim teroris atau imigran ilegal. NYATANYA apa yang mereka bicarakan memang benar adanya walaupun tidak semuanya. Saya sendiri muslim tapi bukan teroris dan imigran tapi bukan ilegal. Jadi ya enggak perlu baper tersinggung dan langsung panas macam sumbu kompor yang pendek.

Saya ingat, saat salah satu teman suami malah sempat merasa tidak enak membahas mengenai beberapa isu yang sensitif seperti agama (karena mereka tahu agama saya). Dia bahkan bertanya apa saya tersinggung. Saya cuma jawab, agama buat saya hubungannya antara saya dan Tuhan saya. Setiap orang bebas punya pendapat, secara Amerika gitu loh menjunjung tinggi freedom of everything. Saya tahu mana yang benar dan tidak. Saya bilang, kalau dia sudah selesai dengan pendapatnya dan mau dengar pendapat saya, saya akan buka suara.

Bukan sok-sokan tapi terus terang. Selama beberapa tahun terakhir mendapat kesempatan tinggal di beberapa negara dengan latar belakang dan budaya yang berbeda dari tanah air saya. Bertemu berbagai macam jenis orang dari seluruh dunia telah mengajarkan saya untuk bisa lebih open minded, tidak memaksakan pendapat, tidak ingin selalu merasa paling benar, paling tahu dan yang pasti tidak cepat tersinggung. Sebagai minoritas, tentunya saya tahu diri harus membawa diri dan menempatkan diri agar kehidupan saya pun aman tentram dan damai.

Kalau melihat trend banyak orang ribet ngurusin urusan orang lain. Saya mah ga ikutan trend itulah. Mau orang jungkir balik kek, atau yang giman-gimana yaudalah biarkan saja. Hidup dibawa santai aja, jangan dibawa baperlah. Kalau terlalu baper dan sensitif akhirnya bikin susah sendiri.


Tax Refund

22532404_10154930156986301_605413419_oApa itu tax refund? Jadi uang dari kelebihan pajak yang kita bayar. Sepertinya sistem tax refund ini juga ada di negara lain seperti Australi. Saya sendiri baru benar-benar berurusan dengan tax refund saat di Amerika. Intinya uang kelebihan pajak yang telah kita bayarkan dan dikembalikan pada akhir tahun. Biasanya periode mendapatkan tacxrefund antara December sampai April.

Saya sendiri masih agak-agak kurang paham sistem perhitungannya bagaimana. Secara singkat suami menjelaskan intinya kalau status single maka pajak yang dibayarkan lebih besar daripada ketika menikah dan mempunyai anak. Semakin banyak anak yang dimiliki maka pajak yang dibayarkan semakin sedikit dan tax refund yang diperoleh pun lebih banyak.

Suami sempat mendapatkan durian runtuh tahun lalu saat menghitung tax refund yang diperoleh setelah menikah,besarannya 15 kali lipat dibandingkan saat dirinya belum menikah. Jadi, mungkin ga perlu takut duit pajak di korupsi kalinya karena kalau ada  kelebihannya pun dikembalikan ke tiap pembayar pajak. Untuk menghitung tax return ada semacam aplikasi yang bisa digunakan dan hanya membayar beberapa dolar saja tidak mahal. Biasanya suami semasa masih single selalu menggunakan aplikasi tersebut untuk menghitung berapa pajak yang dibayarkan dan berapa kelebihannya.

Namun, tahun lalu dengan status yang sudah menikah dan status dokumen say yang saat itu masih proses. Kami pun harus meminta bantuan agen pajak untuk menghitung pajak kami. Meskipun kami harus membayar sekitar 300 USD karena suami tidak mau sampai salah hitung terlebih beberapa dokumen saya masih pending karena dalam proses, tapi semuanya worth it. Kalau sampai salah hitung bisa-bisa dianggap fraud dan malah kena denda bayarpajak yang lebih besar.


Sistem Metrik

Metrik sistem atau sistem pengukuran yang digunakan di Amerika berbeda 180 derajat dengan yang selama ini saya gunakan di Indonesia. Bahkan di beberapa negara yang sempat saya tinggali seperti di Australia dan Belanda menggunakan sistem yang sama seperti di Indonesia. Meskipun sudah setahun lebih saya tinggal di USA, sampai sekarang saya masih menggunakan celsius untuk memperkirakan kondisi cuaca. Di Amerika, mereka mengunakan ukuran fahrenheit.

Sering kali saat suami atau bahkan teman-teman di kerjaan menanyakan temperatur, saya malah menjawabnya dengan celcius bukan dengan fahrenheit dan begitu juga sebaliknya saat saya bertanya kepada mereka. Kalau sudah begitu biasanya saya langsung liat konversi di handphone untuk memperkirakan seberapa panas atau sebenara dingin temperatur udara.

Tidak hanya perbedaan satuan temperatur, di Amerika mereka juga menggunakan satuan pound untuk mengukur berat. Sementara saya tidak pernah membayangkan “seberapa berat” dalam satuan pound. Lagi-lagi saya harus mengkonversi ke kilogram. Untuk ukuran jarak, Amerika menggunakan miles dan bukan kilometer dan masih banyak lagi perbedaan ukuran lainnya.

Belum lagi kalau ngomongin soal tinggi badan, Amerika menggunakan feet dan inchi bukan centimeter. Lagi-lagi ya saya sellau coba konversi ke sistem metrik yang selama ini saya pahami. Ya walaupun selalu mencoba menyesuaikan dengan mereka.


Empat Musim

22497012_10154930164141301_1213119203_o

Untuk yang satu ini sebenarnya bukan hal yang baru lagi buat saya, sebelumnya saat tinggal di Belanda dan Australia saya sempat merasakan empat musim. Namun, baru tahun ini saya merasakan empat musim di Amerika. Sebelumnya saya datang saat musim dingin atau musim gugur dan melewatkan musim semi dan musim panas. Namun tahun ini saya akhirnya bisa merasakan musim panas di Amerika Serikat yang mana memang panas tapi masih tidak ada yang mengalahkan panasnya musim panas ketika saya di Australia yang mencapai 40 derajat. Kemungkinan karena saya tinggal di Ohio, musim panasnya tidak begitu ekstrim seperti yang dirasakan beberapa teman di wilayah barat Amerika yang katanya bis amencapai lebih dari 40 derajat.

Sementara untuk musim semi, justru saya sedikit kecewa karena bayangan musim semi yang semwriwing dengan angin yang berpadu sinar matahari yang menghangatkan tubuh malah diisi dengan banyaknya hujan yang turun. Makanya ada istilah “April showers bring May flowers”. Namun, musim hujan tidak hanya sampai di bulan April saja, hujan masih berlanjut sampai bulan Mei. Bahkan beberapa hari di awal April wilayah Ohio dan beberapa state lainnya masih diguyur salju sampai dua hari kemudian hari-hari berikutnya matahari bersinar cerah. Benar-benar global warming itu nyata adanya.

15310751_10154029473691301_185200331_nUntuk musim dingin sendiri, di Amerika merupakan musim dingin terparah yang pernah saya rasakan. Musim dingin sebelum-sebelumnya sempat merasakans ampai minus 14 derajat dan tahun lalu bahkan sampai minus 20. Untungnya badan saya tidak manja dan tidak sampai berdarah-darah sampai mimisan. Bahkan suatau hari di musim dingin, suami sampai tidak bisa berangkat kerja karena salju yang terlalu tebal dan truk pengeruk salju enah bagaimana belum membersihkan jalan. Meskipun awal-awal melihats laju turun saya masih merasa excited, guling-gulingan di salju, membuat snowman tapi kelamaan saljuan bikin bete juga karena susah kemana-mana.

Nah kalau musim gugur atau autumn itu musim favorite saya, daun-daun berubah warna dari kuning, orange, merah berpadu menjadi satu menjadi perpaduan yang cantik. Melihat daun warna-warni berjatuhan dari pohon menjadi pemdangan yang mengasikan buat saya. Untung saya saya belum punya rumah dengan halaman yang seluas lapangan bola, karena pasti daun-daun yang berguguran di halaman rumah menjadi kerjaan tesendiri untuk dibersihkan.

22553883_10154930165896301_1605415310_o


Senjata Api

Sebenarnya malas juga sih bahas yang ini tapi memang seperti banyak diperbincangkan kalau di Amerika Serikat, warga sipil diperbolehkan mempunyaiu senjata api. Alasannya untk memproteksi diri sendiri. Untuk mendapatkan lisensi kepemilikan senjata api juga tidak muda (yang saya baca begitu). Katanya harus melewati serangkaian tes terutama tes kejiwaan. Namun, seperti beberapa peristiwa penembakan yang terjadi di Amerika Serikat, justru dilakukan oleh orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan. But any how, saya ga mau banyak komen lah soal yang ini, agak-agak sensitif dan selalu kontroversi dibahasnya.

Kebetulan suami memiliki pendapat yang sama dengan saya, tidak setuju dengan kepemilikan senjata api dan tentu saja suami ga punya dan ga niat untuk membeli juga.Selama saya tinggal di Amerika, baru beberapa kali saya melihat orang bawa-bawa senjata api. Tidak sering juga sih. Pertama saya lihat seorang pria membawa senjata api saat kami sedang makan di restoran steak. Saya dan suami sama-sama mengeryitkan dahi dan saling pandang. “Ngapain juga mau makan bawa-bawa senjata?”

Kedua, saya melihat seorang pria membawa senjata api saat saya sedang menunggu suami di starbuck. Namun, saat itu tengah berlangsung acara “Coffee with Cops” dan sepertinya pria tersebut ingin menunjukkan lisensi senjata apinya kepada polisi. Kejadian ini terjadi hanya selang beberapa waktu daru penembakan di Las Vegas. Agak-agak parno juga walaupun di Starbucks saat itu banyak polisi.

Sepertinya sekian beberapa hal yang bisa saya ingat mengenai hal-hal menarik hidup di Amerika Serikat. Kalau nanti ingat-ingat yang lainnya akan saya tambahkan. Bagi saya, hidup di tempat baru dengan banyak hal yang berbeda menjadi suatu yang menarik. Tentu saja perlu kemamapuan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru untuk bisa bertahan. Untungnya saya sempat mendapatkan kuliah Komunikasi Lintas Budaya jaman duduk di bangku kuliah. Semua teori yang dijejali di otak saya menjadi bekal buat saya mengaplikasikannya.


Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s