Be An Aupair and Travel The World

Sejak kecil saya punya mimpi untuk bisa keluar negeri. Sayangnya, saya bukan berasal dari keluarga yang dengan mudahnya bisa mengelontorkan uang untuk sekedar jalan-jalan ke luar negeri. Saya sempat berpikir sepertinya hampir mustahil untuk bisa ke luar negeri mengandalkan uluran tangan kedua orangtua saya saja. But, nothing stop me from dreaming. Akhirnya kesempatan mewujudkan mimpi saya itu datang saat tengah terjebak dalam kubangan skripsi.

Beberapa sahabat saya sibuk berbicara mengenai “au pair”. Saya yang kepo pun segera bertanya kepada mbah google apa itu au pair. Au pair merupakan program pertukaran budaya untuk tinggal selama setahun di luar negeri bersama keluarga angkat. Program au pair juga memberikan kita kewajiban untuk bekerja sebagai nanny atau babysitter, menjaga anak-anak dari host family tempat kita tinggal. Banyak teman-teman saya yang berpikir kalau au pair sama saya seperti TKI, babu dan lain sebagainya.

Justru saya melihatnya dari kacamata berbeda, bagi saya au pair menjadi kesempatan buat saya untuk mewujudkan mimpi. Saya pun semakin bersemangat mendalami dan mencari berbagai informasi mengenai au pair. Dalam pandangan saya mengenai au pair saat itulah adalah suatu peluang emas di mana saya sebagai anak muda bisa mendapatkan pengalaman untuk melakukan pertukaran budaya dengan tinggal bersama host family.

Opera House, Sydney, Australia

Selain tinggal, saya juga bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sekolah bahasa di negara yang saya tinggali. Tugas saya sebagai au pair menjadi ‘teman’ atau ‘kakak’ bagi anak-anak di host family tersebut. Ternyata beberapa teman-teman di kampus saya dari jurusan berbeda sudah lebih dulu menjadi au pair. Dari mereka saya mendapat banyak pengetahuan mendalam mengenai suka duka menjadi au pair.

Eropa menjadi pilihan saya untuk mendaftar sebagai au pair, alasannya karena saya melihat teman-teman saya yang bisa asik keliling Eropa dengan mudah. Selain itu karena saya juga suka arsitektur Eropa sekaligus ingin mewujudkan mimpi saya untuk bisa mengunjungi stadion sepakbola di Italia. Saya pun mendaftar ke banyak host family di Eropa dari Italia, Prancis, Norwegia, Findalndia, Denmark, Jerman, Belgia, Belanda.

Amsterdam, Netherland

Selama beberapa bulan tidak ada keluarga yang ingin menerima saya menjadi au pair terutama karena kendala bahasa. Salah seorang keuarga Jerman sempat interview langsung saat mereka berkunjung ke Indonesia, sayangnya untuk mendapatkan visa ke Jerman saya harus memiliki kemamapuan Bahasa Jerman dasar. Saya sendiri saat itu tidak punya waktu untuk mengikuti kursus Bahasa Jerman di tengah kesibukan saya untuk menyelesaikan skripsi.

Meskipun begitu saya tidak menyerah, saya mulai menyeleksi negara yang tidak begitu membutuhkan kualifikasi bahasa sebagai tujuan. Belanda menjadi salah satu negara yang saya fokuskan untuk mendapatkan host family. Berbagai email penolakan pun saya terima dari beberapa keluarga di Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Kadang saya merasa lelah tapi saya tetap positif. Sembari mencoba menyelesaikan skripsi saya pun tetap hunting host family.

Suatu hari di awal Juni, saya mendapatkan email dari wanita Indonesia yang besar dan menetap di Amsterdam, Belanda. Dia menceritakan latar belakang keluarganya yang memiliki seorang suami warga negara Belanda dan dua anak perempuan berusia 7 dan 4 tahun. Dia menyampaikan ketertarikannya untuk menjadikan saya sebagai au pair dari Indonesia pertama untuk keluarganya dengan alasan ingin anaknya mengenail budaya Indonesia.

Amsterdam, Netherland

Bagai mendapat durian runtuh saya pun menyambut baik tawaran tersebut. Proses berikutnya sungguh cepat, saya yang belum punya passport segera diminta membuat passport. Saya urus semua dokumen yang diperlukan sendiri, seperti proses pengurusan akte kelahiran yang harus diperbaharuai dan juga diterjemahkan.

Saya pun tawar-menawar mengenai apa saya hak dan kewajiban saya kepada host family. Bahkan setelah tawar-menawar mereka bersedia membayar biaya visa dan tiket pesawat untuk saya. Saya sendiri hanya keluar biaya untuk menerjemahkan dan legalisir beberapa dokumen yang dibutuhkan. Tidak lebih dari Rp 2 juta.

Pada Sepetember 2010, saya terbang ke negeri kincir angin setelah visa aupair saya diterima. Tentu saja setelah sebelumnya saya bisa menyelesaikan skripsi dan mendapatkan gelar sarjana. Saya tiba di Belanda pada musim gugur dengan udara yang semriwing. Selama setahun tinggal bersama keluarga Indonesia-Belanda, tentu saja banyak suka-duka. Berbagai masalah kerap timbul karena perbedaan budaya dan bahasa. Terutama kedua anak perempuan yang menjadi tanggungjawab saya, karena keduanya tidak bisa Bahasa Inggris dan saat itu Bahasa Belanda saya belum lancar jaya. Jadilah saya sempat menemukan banyak kesulitan tapi lambat laun saya pun dapat beradaptasi.

Ijburg, Amsterdam, Netherland

Sebagai au pair, tugas saya dari Senin-Jumat, menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak sekolah. Kemudian saya punya punya waktu free sampai pukul 3 sore. Di sela-sela waktu free tersebut sekitar satu jam saya punya tugas untuk belanja bahan masakan untuk makan malam dan laundry (dengan mesin cuci). Pukul tiga saya jemput anak-anak dari sekolah dan bermain dengan mereka sampai kedua orangtua mereka datang. Dalam seminggu, saya masak makan malam hanya 3 hari karena host mom libur pada hari Rabu, saya punya free time setengah hari dan pada hari Jumat host dad saya juga libur sehingga saya punya free time setengah hari. Sabtu dan Minggu saya libur full. Waktu libur biasanya saya habiskan untuk hangout bersama teman-teman baik sesama aupair ataupu. Teman-teman traveller lainnya.

Keuntungan menjadi au pair di Belanda, saya tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk keliling ke beberapa tempat di Belanda tapi juga beberapa negara Eropa. Pada liburan musim dingin, saat host family saya liburan ke Austria, saya memilih liburan ke Paris bersama teman-teman saya. Saat libur musim semi pun saya memilih liburan ke Belgia bersama teman-teman saya. Pada liburan musim panas saya mendapatkan jatah libur yang saya manfaatkan untuk Eurotrip solo dari Jerman, Ceko, Austria, Italia hingga Spanyol.

Eurotrip

Selain mendapatkan kesempatan untuk keliling beberapa negara Eropa dan mewujudkan mimpi saya untuk berkunjung ke stadion San Siro Milan, saya juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai orang dari seluruh dunia. Berinteraksi dan bertukar pikiran dengan berbagai orang dengan latar belakang berbeda membuat saya mendapatkan banyak wawasan yang tak ternilai harganya. Saya juga mendapatkan kesempatan belajar Bahasa Belanda di sekolah bahasa yang dibiayai oleh host family saya. Tidak hanya itu, dengan bergaul dalma komunitas Couchsurfing, saya berkesempatan belajar Bahasa Belanda gratis bersama dengan teman-teman dari berbagai negara.

Setelah satu tahun berama host family di Belanda, saya sempat niat melanjutkan menjadi au pair di Belgia. Selama dua minggu saya sempat menjadi au pair di Belgia di keluarga Inggris dengan satu anak berusia tiga tahun. Sayangnya keluarga tersebut berencana kembali ke Inggris dan saya sebagai au pair dari Indonesia memang tidak memiliki izin untuk menjadi au pair di Inggris. Saya pun memutuskan kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai jurnalis sesuai dengan bidang ilmu yang saya pelajari selama lima tahun di kampus.

Bekerja sebagai jurnalis selama hampir tiga tahun, tidak begitu saja menghempaskan keinginan saya untuk jalan-jalan ke luar negeri. Saya pun kembali mendapatkan peluang untuk mendaftar Working Holiday Visa ke Australia (WHV). Saya kembali memilih untuk menjadi au pair di Australia. Kenapa au pair? Alasannya karena dengan menjadi au pair dan mendapatkan host family sebelum saya sampai di Australia, saya tidak perlu membayar sewa tempat dan saya sudah otomatis mendapatkan pekerjaan. Banyak anak-anak WHV datang ke Australia tanpa tempat tinggal dan pekerjaan, mereka baru mulai melamar pekerjaan saat sudah di Australia. Memang mungkin gaji yang mereka peroleh lebih besar dari gaji sebagai au pair tapi perlu diingat mereka tetap harus membayar sewa tempat, makan dan transportasi.

Manly, Sydney, Australia

Beruntung, saya mendapatkan host family berasal dari Australia-South Africa dengan dua anak laki-laki berusia 3 tahun dan 1 tahun yang super duper nice. Pada saat saya sampai di Australia ternyata saya mendapatkan kejutan bahwa host mom saya tengah mengandung. Jadi nambah lagi anak yang harus saya ajak main. Pekerjaan saya sebagai au pair di Australia tidak jauh berbeda dengan saat di Belanda. Bedanya host family saya akan membayar lebih dihitung perjam, jika saya bekerja lebih dari 30 jam seminggu. Enaknya lagi di Australia bayarannya seminggu dan saya bisa dapat tiga kali lipat pocket money dari au pair di Belanda. Kalau dilihat dari penghasilan sebagai au pair di Australia dalam sebulan tiga kali lipat gaji saya sebagai jurnalis di Indonesia. Namun, selain penghasilan, saya pun menikmati kesempatan tinggal di Manly, salah satu daerah yang menjadi tujuan turis di Sydney. Kehidupan pantai yang tenang dan santai jauh dari stress dan kemacetan semacam menjadi asupan energy positif bagi tubuh dan jiwa saya.

Cape Town, South Africa

Rencana awal, saya hanya ingin menetap dengan keluarga Australia selama 6 bulan kemudian pindah ke keluarga lainnya atau mencari pekerjaan lainnya. Namun, niat saya itu harus saya urungkan karena keluarga Australia ini sungguh luar biasa baik dan awesome. Saya pun sudah terlanjur jatuh cinta dengan anak-anaknya. Bahkan anak kedua, si pirang sudah menganggap saya seperti ibu keduanya. Ke mana saya pergi selalu diikuti.

Selain itu, saya pun mendapat kesempatan untuk travel ke beberapa negara lainnya bersama mereka seperti ke Hongkong, China dan South Africa. Semua dibiayai oleh mereka, mulai dari visa, tiket pesawat, makan, akomodasi dan saya pun tetap mendapat gaji karena saya juga tetap bekerja di sana. Tidak melulu soal bekerja, saya pun mendapatkan waktu off yang saya bisa gunakan untuk jalan-jalan. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya bisa merasakan duduk di pesawat di bagian first class dalam perjalanan pulang pergi dari Sydney ke Capetown. Selaim itu, selama menjadi au pair di Australia, saya mendapatkan waktu liburan yang saya manfaatkan untuk mengunjungi pacar (sekarang suami di Ohio, Amerika Serikat dan pada untuk jatah liburan berikutnya saya memilih untuk solo travelling ke Thailand selama dua minggu dan

Menjadi au pair tidak melulu bekerja kasar ala TKI, seperti banyak orang pikir. Jika kita termasuk orang yang bisa melihat kesempatan, menjadi au pair merupakan kesempatan emas untuk travel the world, bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia yang dapat membuka pemikiran dan wawasan kita. Kesempatan hidup di negeri orang jauh dari orangtua dan teman-teman menjadi kesempatan kita untuk dapat lebih kuat dan mandiri saat berada di luar comfort zone. Terus terang, pengalaman itu tidak banyak saya peroleh selama saya bersekolah dan bekerja di Indonesia. Manfaatkan hidup kita selagi muda. Materi bukan satu-satunya penghambat kita untuk bisa mewujudkan mimpi. Kerja keras dan usaha adalah kuncinya.

Advertisements

4 thoughts on “Be An Aupair and Travel The World

    • gue juga dah kenyang penolakan vi. kalau kata temen gue cari host family kayak cari pacar. Jodoh-jodohan. Kedua host family gue di Belanda dan Australia malahan mereka yang kirim email duluan dan gue malah ga pernah nemu profile mereka dan ujungnya emang jodoh ya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s